Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, 27 October 2013

Sisa Hujan Semalam

Bedugul, 27 Oktober 2013

Hujan telah membangunkan bunga-bunga untuk mekar.
Melarutkan debu-debu dalam belaian embun.
Menyisakan halaman yang ranum oleh aroma tanah.
Bunga-bunga merah merona ini
menebar harum di basahnya embun
dan sisa-sisa hujan semalam.


Bedugul, 27 Oktober 2013
Hanifah Alshofa Nurul Aini

Sunday, 20 October 2013

Aku Kembali

Bandara Internasional Ngurah Rai, 22 Maret 2013
Entah merindukan Bali
atau merindukan penghuni pulau itu
Ketika mereka mulai bersantai di kampung halaman
menikmati libur Hari Raya Galungan,
aku malah kem(Bali)
Aku kembali
Entah tanah kelahiran yang sudah tak indah lagi
atau budaya yang mulai hilang di tanah itu
Ketika mereka berbondong-bondong menjinjing buah tangan
dengan tas besar berisi pakaian,
aku malah kem(Bali)
Aku kembali
Entah jiwa yang sepi
atau hati yang tengah membeku
Ketika mereka bersemangat pulang dengan senyuman
dan disambut dengan pelukan,
Aku malah kem(Bali)
Aku kembali
Ah, bagiku sama saja
Di sini,
di sana,
aku masih tetap sendiri
Aku sendiri
Aku kembali

Sumedang, 20 Oktober 2013
Hanifah Alshofa Nurul Aini

Friday, 18 October 2013

Kehilangan

Monumen Lingga Sumedang (http://www.sumedangdailyphoto.com)
Sejuta kenangan tumbuh membentuk harmoni
Begitu bermakna, seperti lingga di alun-alun kota
Aku ingat kala siang bermain-main di sana
bercanda tawa mengelilingi sang tugu
Aku ingat kala malam duduk di tangga itu
merenungi konstelasi bintang, menyelami pola
 Kini semua itu hanya bias warna yang berfusi
yang bercerita tanpa kata-kata
Seperti sebuah diorama
meninggalkan enigma
kemana perginya?


Sumedang, 18 Oktober 2013
Hanifah Alshofa Nurul Aini

Thursday, 17 October 2013

Ocehku tentang Alam

Kebun Raya Bali (Bedugul), 21 Juni 2013
Aku ingin berteriak
Menyuarakan resah penuh murka sang mentari
Mengungkap rintih rindu hujan pada tanah
Memahami isak tangis alam yang memekik, kian meronta
Merampas alam yang asri
Mengancam hidup budak Ilahi

Gelisah gunung bertanya
Pada riak kecil air sungai
Yang menari tanpa ikan menemani
Entahlah, ke mana mereka pergi
Bersembunyi atau bimbang kawannya telah hilang
Terperangkap di dalam limbah yang menelaga
Mati

Wahai yang hati dan matanya tertutup
Yang tanggungjawabnya hilang ditelan ego
Sadarilah imbas kepuasanmu
Tiada ketenangan, tiada damai
Alam ini hanya pinjaman
Atau sudah menjadi hukum alam?
Yang meminjam lupa mengembalikan


Sumedang, 17 Oktober 2013
Hanifah Alshofa Nurul Aini

Friday, 28 June 2013

Pelayaran

Pantai Sanur, 28 Juni 2013
Termenung tentang hati,
tentang hidup,
dan tentang kapal ini. 
Aku telah jauh berlayar 
menuju tujuan yg masih terselubung kabut.
Telah banyak pula pantai-pantai indah yg aku lewati begitu saja. 
Apakah mimpiku ini terlalu besar? 
Waktu tak pernah memberi jawaban tentang pertemuan kelak.
Karena semuanya bisu. 
Kecuali senandung ombak rindu.


Denpasar, 28 Juni 2013
Hanifah Alshofa Nurul Aini

Masih Tetap Indah

Pantai Sanur, 28 Juni 2013
Pagi itu menghadirkan rasa damai.
Bau embun yang senantiasa terhirup menyegarkan membasahi pasir pantai.
Walau mentari masih malu-malu menyapa,
membelai dedaunan pun tetap sama.
Indah, masih tetap indah.
Walau awan terlihat tak secerah seperti wajah yg tak terbungkus senyum. 
Indah, masih tetap indah. 
Dan senandung ombak rindu memecah sunyi,
melepas yg tak terucapkan dibawanya pergi.


Denpasar, 28 Juni 2013
Hanifah Alshofa Nurul Aini

Thursday, 16 May 2013

Puisi Tentang Rindu

               Telinga saya tiba-tiba saja memaksa otak untuk mengingat lebih keras ketika tanpa sengaja terdengar seseorang membacakan sebuah puisi di sebuah acara bertajuk Hari-Hari Sastra di Universitas Padjajaran, Sumedang tahun 2011 silam. Ya, otak saya bekerja keras untuk menghafal lirik puisi itu. Kata demi kata begitu saya nikmati. Begini kira-kira bunyi puisi tentang rindu yang pada saat itu dengan segera saya tulis di buku catatan,
 
Aku ingin seperti nyamuk kecil
yang tersesat
dan hinggap di telingamu
membisikkan,
"Aku rindu..."
Meskipun kau menghempaskan aku
dengan kedua tanganmu
dan menyisakan setetes darah
yang esok pagi akan kau cuci
lalu luntur
Aku meluntur

               Entah siapa, karya siapa, saya tidak pernah mengetahuinya hingga sekarang. Yang saya ingat betul adalah pembacanya membawakan puisi itu dengan penuh penghayatan hingga cukup menyayat hati saya. Barangkali ada yang mengenal puisi itu? 




Denpasar, 16 Mei 2013 
Hanifah Alshofa Nurul Aini 

Wednesday, 4 July 2012

Untitled

Dunia mungkin sedikitpun tidak berubah
ketika kau putuskan untuk pergi
Tapi,
satu orang hilang dalam hidupku,
orang sepertimu
mana mungkin tahu perasaan ini





Sumedang, 4 Juli 2012 
Hanifah Alshofa Nurul Aini

Sunday, 20 November 2011

DAN KAU TAK PERNAH TAHU



Kesedihan  adalah cinta
Rasa sakit adalah Cinta
Benci pun juga cinta
Karena cinta kau bersedih
Karena cinta kau terluka
Karena cinta kau membenci
Dan aku hanya bisa mengagumimu
Mendambakan sebuah sapa
Mendambakan sebuah senyuman
Aku terlalu lemah untuk menelan kekecewaan
Dan mengagumimu bak bunga mawar
Semakin ku genggam semakin ku perih
Dan kau tak pernah tahu

Maaf aku menaruh minyak dalam air
Kapanlah mereka akan bersatu?
Hanya menjadi noda dalam sebuah kemurnian
Menggumpal dan terombang-ambing
Dan ketika semua telah usang dalam pandangan
Hadirlah walau hanya pada setitik kenangan
Dan kau temukan aku di luar kemarau
Kau tak tahu yang jatuh di danau itu
Air mataku atau rintik hujan
Atau kau temukan aku di luar hujan
Kau tak tahu di danau yang tenang itu
Titik air mataku atau riak kecil air
Dan kau tak pernah tahu

Jika aku harus berenang di danau itu, aku akan!
Karena berenang di hatimu adalah lebih sulit
Mereka bilang “Ikuti kata hatimu!”
Tapi ketika hatiku hancur menjadi kepingan
Bagian yang mana yang harus aku ikuti?
Dan aku masih disini dengan satu alasan bodoh
Yang aku sendiri tidak tahu apa
Sulit bergerak susah melangkah
Dipaku oleh sebuah penantian
Biarlah kurajut sepi ini
Di setiap keheningan sunyi menghampiriku
Kujadikan teman di kala senyap
Dan kau tak pernah tahu
Sumedang, 20 November 2011
Hanifah Alshofa Nurul Aini